Mungkin nasibku tidak seberuntung orang lain, yang berlebihan tapi Alhamdulillah saya merasa Cukup dengan apa yang Alloh berikan. Kadang hati terkoyak menangis ketika mengingat sosok sang ayah, sang kepala rumah tangga, sang pencari nafkah untuk Ibu dan keluarga telah tiada. dan disitulah saya harus mencari titik akhir dari cita2 saya. dari batas hayal yang diimpikan,
ketika waktunya saya mencoba menginjakan mimpi di alam yang nyata penuh kabut duri berselimut bayang hitam yang terang, air mata yang trsembunyi dibalik rona sayup ketegaran mencoba ku sisihkan ku genggam dalam dekapan kerasnya hidup, dan puji syukur ke persembahkan kepada Dzat yang Maha Agung yang meng anugrahkan ketegaran serta kelapangan dalam rizki dan karier ku. dan untuk Ibu maaf aku belum bisa mempersembahkan segudang senyum di wajahmu. Love u mah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar